Oleh: Imroatul Mufidah, S. Pd.
“Shaski...!”
suara bu Rahma memanggil namanya. Shaski pun tersentak dari tempat duduknya dan
berlari ke depan kelas untuk mengambil kertas ulangan IPA yang dibagikan oleh
bu Rahma. Di kertas tersebut tertulis
nilai Tujuh Puluh Lima dengan spidol warna hitam tebal.
“Tetap
belajar lebih giat lagi ya.......supaya nilaimu menjadi lebih baik!” Kata bu
Rahma guru kelas Shaski.
Shaski
merasa sedih sekali melihat kertas ulangan itu, ia tak henti-hentinya
menundukkan kepala sembari memandangi
kertas ulangan tersebut. Dengan langkah pelan, ia pun segera kembali ke tempat duduknya, sementara teman-temannya
sedang berkerumun saling memperlihatkan hasil ulangan mereka. Shaski pun segera
ikut berkerumun namun ia malu memperlihatkan hasil ulangan IPA kepada temannya.
Shaski memang murid yang tergolong biasa-biasa
saja di kelasnya, namun dia pandai dalam mata pelajaran IPA dan Matematika. Akan
tetapi dia bukanlah murid yang istimewa diantara teman-temannya. Bagi Shaski
anak yang paling pandai di kelasnya adalah Nisa dan Abizar. Mereka anak yang
paling pintar dengan nilai-nilai yang tertinggi di kelas.
Dering
bel istirahatpun berbunyi. Tentu saja semua siswa bersemangat ke luar kelas dan
segera membuka bekal mereka masing-masing. Shaski dan Nisa duduk di taman
sekolah, sambil menikmati nasi goreng bekal mereka pagi ini. Tiba-tiba suara Bu
Rahma mengagetkan mereka.
“Shaski.....
coba kemari sebentar, ibu tunggu di kelas ya.”
Panggil bu Rahma. Awalnya Shaski takut dan bingung.
“Ada
apa ya Nis? mengapa bu Rahma menyuruhku menemuinya di kelas, apa jangan-jangan karena
nilaiku tadi ya?” Kata Shaski kepada
Nisa.
“Sudahlah
Shaski, sekarang kamu datang saja menemui Bu Rahma, barangkali kamu mau diberi
sesuatu, betul tidak?” Kata Nisa sambil bergurau.
Namun,
karena yang menyuruh bu Rahma, guru kelasnya, Shaski segera mengakhiri makannya
dan segera menuju ke kelas menemui bu Rahma.
Di
kelas, Shaski sudah dinanti bu Rahma. Shaski tidak ingin membuat bu Rahma
menunggu terlalu lama, Shaski pun segera masuk dan menghampiri bu Rahma.
“Ada
apa bu?” Tanya Shaski dengan sedikit rasa takut dan bingung.
“Duduklah...”
Perintah bu Rahma sambil mengembangkan senyum manisnya.
“Ada seleksi
Lomba Olimpiade SAIN, nanti kamu ikut
ya, Nisa juga akan ikut, nanti gantian ibu akan memberitahu dia.” Kata bu Rahma
membujuk Shaski.
“Tapi
bu, mengapa harus saya, mengapa bukan
Nisa dan Abizar saja Bu?” Tanya Shaski bingung. Bu Rahma seakan mengerti kebingungan yang
dirasakan muridnya
“Iya,
ibu sengaja memilih kamu dan Nisa yang ikut, kamu tidak usah bingung, nanti
kita belajar sama-sama, ibu akan bantu dan bimbing kamu, dan sekolah yang akan
mendaftarkan kamu dan Nisa, bagaimana? Setuju tidak?” Bujuk Bu Rahma lagi.
“Tapi
kan Shaski bukan anak yang pandai bu, nilai Shaski juga biasa-biasa saja, ibu
lihat tadi ulangan IPA saja cuma dapat
Tujuh Puluh Lima.” Kata Shaski mencoba
mejelaskan pada bu Rahma.
“Nah, tidak baik terlalu pesimis dulu Shaski,
ibu tidak suka itu. Kita harus percaya diri dan optimis bahwa kamu bisa, kamu
juga anak yang pandai seperti Nisa dan Abizar, kamu kan jagoannya IPA dan
Matematika? lebih baik kita berusaha dulu sebaik mungkin, dan
hasilnya kita pasrahkan pada Tuhan, semoga Shaski ataupun Nisa nanti dapat
menjadi yang terbaik mengharumkan nama sekolah kita.”
Sepertinya,
kali ini Shaski tidak dapat menolak
permintaan bu Rahma.
“Baiklah
bu, saya setuju, saya akan berusaha
lebih baik.” Sejak saat itu Shaski dan
Nisa selalu dibimbing bu Rahma belajar latihan-latihan soal Sains. Sungguh tanpa
mengenal lelah, Shaski begitu bersemangat karena dia ingin lolos seleksi
pertama. Akhirnya lomba Olimpiade SAINS
pun dimulai, dengan didampingi bu Rahma bersama temannya Nisa, Shaski berangkat ke SMARTGAMA sebuah nama
tempat bimbingan belajar, dengan harapan bisa lolos untuk seleksi selanjutnya.
Beberapa
bulan kemudian, sebelum pelajaran Bahasa Indonesia berakhir, Bu Rahma memberi
tugas kepada murid-muridnya untuk dikerjakan di rumah.
“Anak-anak,
sebentar lagi kita akan memperingati hari Kartini, tugas kalian adalah belajar
menulis surat di rumah yang ditujukan kepada seorang wanita yang kalian kagumi,
boleh kepada ibunya atau siapa saja, kalian bebas menulis surat apa saja yang
ingin kalian sampaikan.” Kata bu Rahma menjelaskan. Lalu bu Rahma segera
mengakhiri pelajaran hari ini.
Tiba-tiba
suara bu Rahma, mengagetkan Shaski.
“Shaski..
, kemari sebentar ya!” Shaski sedikit
takut dan gemetaran tangannya, dia belum siap jika bu Rahma mengatakan bahwa Shaski
tidak lolos dalam seleksi Olimpiade Sains yang pertama. Shaski pun segera
menghampiri bu Rahma.
“Ada
apa bu?’ Tanya Shaski dengan perasaan takut.
“Eh..
senyum donk Shaski, kok wajahnya cemberut begitu, selamat ya... Alhamdulilah
kamu lolos dan terpilih menjadi finalis seleksi
Olimpiade Sains tingkat wilayah, puluhan peserta olimpiade dari murid SD
seluruh Malang berhasil kamu sisihkan, sehingga kamu akan dikirim untuk
mengikuti kegiatan lomba Olimpiade ini lagi pada tingkat nasional.” Kata bu
Rahma sembari tersenyum bahagia.
Shaski
melompat-lompat gembira. Bu Rahma bahagia sekali melihat kebahagiaan Shaski.
Meskipun tugas bu Rahma selanjutnya lebih berat, karena harus tetap membimbing Shaski
supaya berhasil di tingkat Nasional.
“Shaski,
jangan senang dulu, Minggu depan kamu akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti
Olimpiade Sains tingkat Nasional, pesertanya dari seluruh Nusantara, nah Shaski
tentunya harus belajar lebih giat lagi, supaya nanti Shaski berhasil menjadi
yang terbaik.” Suara bu Rahma menambah
semangat dan motivasi Shaski untuk mengikuti lomba di tingkat nasional.
“Baiklah bu, bu Rahma jangan khawatir, saya
akan belajar lebih giat lagi, saya tidak akan mengecewakan ibu.” Kata Shaski
penuh semangat.
Hari yang
dinanti pun tiba, ternyata benar Sabtu pagi Shaski harus berangkat ke Jakarta
selama tiga hari untuk mengikuti Olimpiade SAINS di tingkat Nasional. Bu Rahma
tidak bisa mengantar, karena bu Rahma guru kelas, dia tidak bisa meninggalkan
tugas mengajar di sekolah. Dalam hati kecil Shaski sedikit kecewa, karena bu Rahma
tak bisa mengantarkannya.
Dengan
semangat tinggi Shaski berangkat ke Jakarta bersama Pak Dani, dengan harapan
bisa meraih juara agar bu Rahma tidak kecewa. Di sana Shaski mendapat banyak
teman dari seluruh Nusantara. Pada saat lomba, tahap pertama bisa dilalui Shaski
dengan baik, hingga masuk dalam sepuluh besar yang terbaik. Hari berikutnya
dirasakan Shaski semakin berat, karena Shaski harus menghadapi lawan-lawannya yang
amat hebat. Namun, Shaski tetap belajar dan belajar, ia tidak ingin
mengecewakan bu Rahma. Dan sampailah pada waktunya, Shaski pun bisa mengikutinya
dengan baik.
Hari ini,
adalah hari yang dinanti nantikan oleh Shaski, tibalah sang juri membacakan
hasil juaranya, ternyata Shaski begitu kaget ketika namanya dibacakan oleh Juri
sebagai juara II dalam Olimpiade Sains Tingkat Sekolah Dasar se-Indonesia. Shaski
bahagia sekali mendengarnya, dia tak henti hentinya mengucap syukur, meskipun
dia bukan menjadi juara yang pertama . Harapan Shaski semoga bu Rahma bahagia
karena Shaski sudah menjadi juara. Akhirnya Shaski diminta maju ke panggung
untuk menerima hadiah dan piala, dan pak Dani pun ikut memberinya ucapan
selamat.
Tiga hari
pun berlalu, Shaski kembali ke sekolah dengan hati yang riang.
“Selamat
pagi anak-anak.” Sapa bu Rahma kepada murid-muridnya.
“Selamat
pagi Bu!” Jawab murid-murid.
“Apakah
kalian sudah siap membacakan surat yang sudah kalian tulis di rumah? Siapa yang
akan tampil ke depan terlebih dahulu? Surat ini akan ibu masukkan kedalam
penilaian portofolio dan pengamatan.” Kata
bu Rahma.
“Saya Bu!” Shaski
mengacungkan tangannya.
“Baiklah silahkan Shaski, surat untuk siapa yang kamu tulis?” Tanya bu
Rahma kembali. “Saya menulis surat untuk bu Rahma.” Jawabnya.
Mendengar
surat dari Shaski, Bu Rahma terharu dan kemudian dia mendekati Shaski dan
memeluknya erat-erat, sambil menahan air mata yang akan menetes di pipinya.
“Ternyata,
saya bisa jadi juara Bu!” Bisik Shaski sambil berkaca-kaca matanya.
“Kamu hebat
Shaski, semua tidak ada yang tidak mungkin, jika kamu berusaha dengan tekun.” Nasihat
bu Rahma.
“Terima
kasih doa dan motivasinya Bu’” Bu Rahma mengangguk bahagia.