Kamis, 11 Agustus 2016

Ternyata, Aku Bisa Jadi Juara



Oleh: Imroatul Mufidah, S. Pd.
“Shaski...!” suara bu Rahma memanggil namanya. Shaski pun tersentak dari tempat duduknya dan berlari ke depan kelas untuk mengambil kertas ulangan IPA yang dibagikan oleh bu Rahma.  Di kertas tersebut tertulis nilai Tujuh Puluh Lima dengan spidol warna hitam tebal.
“Tetap belajar lebih giat lagi ya.......supaya nilaimu menjadi lebih baik!” Kata bu Rahma guru kelas Shaski.
Shaski merasa sedih sekali melihat kertas ulangan itu, ia tak henti-hentinya menundukkan kepala sembari  memandangi kertas ulangan tersebut. Dengan langkah pelan, ia pun segera kembali  ke tempat duduknya, sementara teman-temannya sedang berkerumun saling memperlihatkan hasil ulangan mereka. Shaski pun segera ikut berkerumun namun ia malu memperlihatkan hasil ulangan IPA kepada temannya.
 Shaski memang murid yang tergolong biasa-biasa saja di kelasnya, namun dia pandai dalam mata pelajaran IPA dan Matematika. Akan tetapi dia bukanlah murid yang istimewa diantara teman-temannya. Bagi Shaski anak yang paling pandai di kelasnya adalah Nisa dan Abizar. Mereka anak yang paling pintar dengan nilai-nilai yang tertinggi di kelas.
Dering bel istirahatpun berbunyi. Tentu saja semua siswa bersemangat ke luar kelas dan segera membuka bekal mereka masing-masing. Shaski dan Nisa duduk di taman sekolah, sambil menikmati nasi goreng bekal mereka pagi ini. Tiba-tiba suara Bu Rahma mengagetkan mereka.
“Shaski..... coba kemari sebentar, ibu tunggu di kelas ya.”  Panggil bu Rahma. Awalnya Shaski takut dan bingung.
“Ada apa ya Nis? mengapa bu Rahma menyuruhku menemuinya di kelas, apa jangan-jangan karena nilaiku tadi ya?”  Kata Shaski kepada Nisa.
“Sudahlah Shaski, sekarang kamu datang saja menemui Bu Rahma, barangkali kamu mau diberi sesuatu, betul tidak?” Kata Nisa sambil bergurau.
Namun, karena yang menyuruh bu Rahma, guru kelasnya, Shaski segera mengakhiri makannya dan segera menuju ke kelas menemui bu Rahma.
Di kelas, Shaski sudah dinanti bu Rahma. Shaski tidak ingin membuat bu Rahma menunggu terlalu lama, Shaski pun segera masuk dan menghampiri bu Rahma.
“Ada apa bu?” Tanya Shaski dengan sedikit rasa takut dan bingung.
“Duduklah...” Perintah bu Rahma sambil mengembangkan senyum manisnya. 
“Ada seleksi Lomba Olimpiade SAIN,  nanti kamu ikut ya, Nisa juga akan ikut, nanti gantian ibu akan memberitahu dia.” Kata bu Rahma membujuk Shaski. 
“Tapi bu, mengapa harus saya,  mengapa bukan Nisa dan Abizar saja Bu?” Tanya Shaski bingung.  Bu Rahma seakan mengerti kebingungan yang dirasakan muridnya 
“Iya, ibu sengaja memilih kamu dan Nisa yang ikut, kamu tidak usah bingung, nanti kita belajar sama-sama, ibu akan bantu dan bimbing kamu, dan sekolah yang akan mendaftarkan kamu dan Nisa, bagaimana? Setuju tidak?”  Bujuk Bu Rahma lagi.
“Tapi kan Shaski bukan anak yang pandai bu, nilai Shaski juga biasa-biasa saja, ibu lihat  tadi ulangan IPA saja cuma dapat Tujuh Puluh Lima.”  Kata Shaski mencoba mejelaskan pada bu Rahma.
 “Nah, tidak baik terlalu pesimis dulu Shaski, ibu tidak suka itu. Kita harus percaya diri dan optimis bahwa kamu bisa, kamu juga anak yang pandai seperti Nisa dan Abizar, kamu kan jagoannya IPA dan Matematika?  lebih baik  kita berusaha dulu sebaik mungkin, dan hasilnya kita pasrahkan pada Tuhan, semoga Shaski ataupun Nisa nanti dapat menjadi yang terbaik mengharumkan nama sekolah kita.” 
Sepertinya,  kali ini Shaski tidak dapat menolak permintaan bu Rahma.
“Baiklah bu, saya setuju, saya  akan berusaha lebih baik.”  Sejak saat itu Shaski dan Nisa selalu dibimbing bu Rahma belajar latihan-latihan soal Sains. Sungguh tanpa mengenal lelah, Shaski begitu bersemangat karena dia ingin lolos seleksi pertama.  Akhirnya lomba Olimpiade SAINS pun dimulai, dengan didampingi bu Rahma bersama temannya Nisa,  Shaski berangkat ke SMARTGAMA sebuah nama tempat bimbingan belajar, dengan harapan bisa lolos untuk seleksi selanjutnya.  
Beberapa bulan kemudian, sebelum pelajaran Bahasa Indonesia berakhir, Bu Rahma memberi tugas kepada murid-muridnya untuk dikerjakan di rumah.
“Anak-anak, sebentar lagi kita akan memperingati hari Kartini, tugas kalian adalah belajar menulis surat di rumah yang ditujukan kepada seorang wanita yang kalian kagumi, boleh kepada ibunya atau siapa saja, kalian bebas menulis surat apa saja yang ingin kalian sampaikan.” Kata bu Rahma menjelaskan. Lalu bu Rahma segera mengakhiri pelajaran hari ini.
Tiba-tiba suara bu Rahma, mengagetkan Shaski.
“Shaski.. , kemari sebentar ya!”  Shaski sedikit takut dan gemetaran tangannya, dia belum siap jika bu Rahma mengatakan bahwa Shaski tidak lolos dalam seleksi Olimpiade Sains yang pertama. Shaski pun segera menghampiri bu Rahma.
“Ada apa bu?’ Tanya Shaski dengan perasaan takut.
“Eh.. senyum donk Shaski, kok wajahnya cemberut begitu, selamat ya... Alhamdulilah kamu lolos dan terpilih menjadi finalis seleksi Olimpiade Sains tingkat wilayah, puluhan peserta olimpiade dari murid SD seluruh Malang berhasil kamu sisihkan, sehingga kamu akan dikirim untuk mengikuti kegiatan lomba Olimpiade ini lagi pada tingkat nasional.” Kata bu Rahma sembari tersenyum bahagia.
Shaski melompat-lompat gembira. Bu Rahma bahagia sekali melihat kebahagiaan Shaski. Meskipun tugas bu Rahma selanjutnya lebih berat, karena harus tetap membimbing Shaski supaya berhasil di tingkat Nasional.
“Shaski, jangan senang dulu, Minggu depan kamu akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Olimpiade Sains tingkat Nasional, pesertanya dari seluruh Nusantara, nah Shaski tentunya harus belajar lebih giat lagi, supaya nanti Shaski berhasil menjadi yang terbaik.”  Suara bu Rahma menambah semangat dan motivasi Shaski untuk mengikuti lomba di tingkat nasional.
 “Baiklah bu, bu Rahma jangan khawatir, saya akan belajar lebih giat lagi, saya tidak akan mengecewakan ibu.” Kata Shaski penuh semangat.
Hari yang dinanti pun tiba, ternyata benar Sabtu pagi Shaski harus berangkat ke Jakarta selama tiga hari untuk mengikuti Olimpiade SAINS di tingkat Nasional. Bu Rahma tidak bisa mengantar, karena bu Rahma guru kelas, dia tidak bisa meninggalkan tugas mengajar di sekolah. Dalam hati kecil Shaski sedikit kecewa, karena bu Rahma tak bisa mengantarkannya.
Dengan semangat tinggi Shaski berangkat ke Jakarta bersama Pak Dani, dengan harapan bisa meraih juara agar bu Rahma tidak kecewa. Di sana Shaski mendapat banyak teman dari seluruh Nusantara. Pada saat lomba, tahap pertama bisa dilalui Shaski dengan baik, hingga masuk dalam sepuluh besar yang terbaik. Hari berikutnya dirasakan Shaski semakin berat, karena Shaski harus menghadapi lawan-lawannya yang amat hebat. Namun, Shaski tetap belajar dan belajar, ia tidak ingin mengecewakan bu Rahma. Dan sampailah pada waktunya, Shaski pun bisa mengikutinya dengan baik.
Hari ini, adalah hari yang dinanti nantikan oleh Shaski, tibalah sang juri membacakan hasil juaranya, ternyata Shaski begitu kaget ketika namanya dibacakan oleh Juri sebagai juara II dalam Olimpiade Sains Tingkat Sekolah Dasar se-Indonesia. Shaski bahagia sekali mendengarnya, dia tak henti hentinya mengucap syukur, meskipun dia bukan menjadi juara yang pertama . Harapan Shaski semoga bu Rahma bahagia karena Shaski sudah menjadi juara. Akhirnya Shaski diminta maju ke panggung untuk menerima hadiah dan piala, dan pak Dani pun ikut memberinya ucapan selamat.
Tiga hari pun berlalu, Shaski kembali ke sekolah dengan hati yang riang.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa bu Rahma kepada murid-muridnya.
“Selamat pagi Bu!” Jawab murid-murid.
“Apakah kalian sudah siap membacakan surat yang sudah kalian tulis di rumah? Siapa yang akan tampil ke depan terlebih dahulu? Surat ini akan ibu masukkan kedalam penilaian portofolio dan pengamatan.”  Kata bu Rahma.
“Saya Bu!” Shaski mengacungkan tangannya.
 “Baiklah silahkan Shaski,  surat untuk siapa yang kamu tulis?” Tanya bu Rahma kembali. “Saya menulis surat untuk bu Rahma.” Jawabnya.

Folded Corner: Malang, 21 April 2016
Kepada Yth. Ibu Rahma
  Bu Rahma, sepucuk surat ini Shaski tulis buat ibu, agar ibu tahu ungkapan isi hati Shaski. Terima kasih atas semua bimbingan ibu terhadap saya. Tentu saya tidak akan lupa, ketika pertama kali saya mulai belajar membaca dan menulis, kadang saya merasa putus asa ketika tidak dapat menyambung huruf demi huruf, namun ibu tetap sabar mengajari dan membimbing saya. Ketika saya kehilangan semangat dan rasa percaya diri, bu Rahma selalu ada dan memotivasi saya. Sehingga ibu bisa melihat ternyata saya bisa menjadi juara seperti teman-teman saya yang lain. Terima kasih bu Rahma atas bimbinganmu selama ini.

Dari Muridmu
Shaski

Mendengar surat dari Shaski, Bu Rahma terharu dan kemudian dia mendekati Shaski dan memeluknya erat-erat, sambil menahan air mata yang akan menetes di pipinya.
“Ternyata, saya bisa jadi juara Bu!” Bisik Shaski sambil berkaca-kaca matanya.
“Kamu hebat Shaski, semua tidak ada yang tidak mungkin, jika kamu berusaha dengan tekun.” Nasihat bu Rahma.
“Terima kasih doa dan motivasinya Bu’” Bu Rahma mengangguk bahagia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar